Jumat, 30 Desember 2011

Bayangan


SETIAP MALAM, BAYANGAN ITU BERKELEBAT CEPAT…

Siapa yang mau bila setiap malam diganggu oleh bayangan. Apalagi bayangan itu muncul di rumah sendiri, berkelebat dengan cepat dari dapur ke kamar tengah, tempat dimana setiap malam aku gunakan untuk menulis naskah. Sungguh aku tak percaya, di rumah yang berdiri di kampung yang besar dan sangat ramai, dari depan dan belakang, dari samping kiri dan kanan diapit oleh rumah-rumah tetangga, masih muncul bayangan seperti itu. 

Bayangan itu pertama kali muncul beberapa minggu setelah aku pindah ke rumah itu. Namun aku mengira itu hanya bayangan lampu mobil atau motor yang kebetulan lewat depan rumah. Semakin lama, bayangan itu sering muncul. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali setiap malam. Dari situlah, aku anggap bahwa itu bukan bayangan sembarangan. Dalam hati aku bertanya, bayangan apa sebenarnya, selama hidup baru kali ini aku melihatnya..

Mulanya aku takut sekali. Setiap bayangan itu muncul, tanpa pikir lagi aku matikan komputer, langsung tidur di kamar depan, dengan pintu tertutup. Namun semakin lama menjadi terbiasa, hingga aku mulai tidak takut lagi. Apalagi saat itu, aku dikejar-kejar target, dalam beberapa hari naskah itu harus diserahkan ke penerbit. Biarlah, dia dengan kehidupannya dan aku dengan kehidupanku. Asal tidak mengganggu anak dan istriku.Rupanya harapan itu kandas. Suatu malam, setelah lebih dari setahun, aku ke kamar mandi. Dari kamar depan ke kamar mandi harus melewati kamar tengah dan dapur. Saat aku kembali, istriku nanya, ayah yang barusan masuk ke kamar tengah. Wah, mahluk itu sudah mulai ganggu istriku, pikirku. Ini gawat. Betul, aku jawab. Maksudku agar istriku tidak mengetahuinya. Rasa takutku mulai muncul lagi. Aku tak meneruskan pekerjaanku, langsung tidur.

Rasa takutku kini semakin bertambah, jangan-jangan mahluk itu nantinya  akan mengganggu anak-anakku. Selain gawat tapi juga bahaya. Karena itu aku harus mencari jalan. Akhirnya aku kembali mendatangi pemimpin pesantren yang dulu pernah mengobati anakku. Setelah aku ceritakan, dia mengambil air minum yang aku bawa, dan masuk ke dalam rumah. Tak lama, dia sudah menyerahkan botol itu. Insyaallah mahluk itu, katanya.

Tiba di rumah, kebetulan istriku tidak ada, sedang ke rumah adiknya. Sesuai saran pemimpin pesantren, air itu aku ciprat-cipratkan ke beberapa bagian dalam rumahku, terutama kamar tengah dan dapur. Istriku bertanya, kenapa di rumah becek. Agar rumah ini bisa dimiliki, jawabku. Soalnya waktu itu masih berstatus gadai, kini sudah resmi milikku dan bersertifikat. Aku lega, bayangan itu hilang. Pernah sekali muncul lagi, tapi setelah meminta air dari pesantren itu, bayangan itu lenyap, hingga sekarang.


Sumber : Provoke Magazine

Tidak ada komentar:

Posting Komentar